6 Mar 2012

Project @ Kampung Ubud Villas

Overview :

Kampung Ubud Villas terletak di desa Sayan, Ubud. Saat ini terdiri dari 3 villa dengan ukuran yang berbeda. Sejak awal owner, menginginkan agar villa ini berkonsep ederhana sekaligus mewah dan juga mengikuti trend saat ini, yaitu eco friendly. Namun juga harus mudah dan murah dalam biaya dalam perawatan.

Bagian dalam kamar :

 

Kamar mandi :

 

 

 Teras :

 

 

 

 

 

Kolam renang :

 

20 Jan 2012

Lighting Effect and shadow

Dua hal yang bertolak belakang, yang satu penyebab, yang lain akibat, ternyata jika disatukan mampu menciptakan karakter dramatis yang menarik. Itulah persisnya yang terjadi dengan cahaya dan bayangan (lights and shadow).
Dalam dunia lighting design, walaupun bicaranya tentang cahaya, bukan berarti harus terang sampai ke segala sudut ruangan. Bayangkan berada di ruangan yang seluruhnya terang benderang, apa yang Anda rasakan? Mungkin datar-datar saja, tidak ada gereget-nya. Si geregetinilah yang bisa dihasilkan, salah satunya, dengan permainan lights and shadow.
Permainan cahaya dan bayangan, yang paling umum kita lihat, adalah yang dibuat dengan menempatkan kisi-kisi di jendela. Saat cahaya matahari masuk, terciptalah bayangan di dinding atau lantai, yang terbentuk dari kisi-kisi tadi. Ini adalah cara yang paling sederhana, dan kebanyakan tidak disengaja juga.
Coba perhatikan di rumah Anda, di area-area yang kerap panas karena diterpa banyak cahaya matahari. Kalau ada jendela di sana, yang kebetulan diberi kisi-kisi atau teralis berpola menarik, Anda akan menemukan bentuk bayangan yang cantik, di lantai. Jika sebelumnya Anda belum pernah memperhatikan, maka temuan ini akan jadi kejutan.
Ada pula permainan cahaya yang memang direncanakan sebelumnya, untuk menciptakan elemen dekoratif alami, yang seru. Mengapa dikatakan seru? Pasalnya, untuk melihatnya tidak bisa setiap saat, hanya saat cahaya matahari cerah jatuh pada titik yang ditentukan. Misalnya, dengan membuat barisan tembok-tembok, yang ket
ika diterpa matahari akan menciptakan bayangan garis-garis di lantai. Lebih menarik lagi, garis-garis ini akan bergerak miring mengikuti pergerakan matahari. Menakjubkan!
Tidak hanya pada ruangan, efek lights and shadows kemudian banyak diadaptasi pada produk-produk lampu, terutama lampu tidur anak-anak. Pasti sebagian besar dari Anda pernah melihat lampu tidur yang ketika dinyalakan bisa menghasilkan bayangan-bayangan lucu di dinding kamar. Entah itu bayangan yang membentuk benda-benda langit, maupun hewan dan tumbuhan.
Seru, kan, bermain hubungan sebab-akibat dalam bidang lighting? Coba ciptakan permainan lights and shadow kreasi Anda sendiri

Sumber : Lumina blog

LED untuk rumah kecil

Ada dua hal yang jadi pokok perhatian saat menata pencahayaan untuk rumah mungil, alokasi daya dan biaya. Alokasi daya menjadi krusial, karena rumah-rumah mungil biasanya memiliki daya listrik yang tidak terlalu besar, maksimal mungkin 2200 watt.
Hal pertama yang perlu dilakukan, sebelum menata pencahayaan di rumah mungil adalah menghitung pembagian daya listrik, untuk seluruh peralatan rumah yang menggunakan listrik. Setelah mendapatkan alokasi daya listrik untuk lampu, barulah kita bisa memulai pembagian alokasi daya untuk lampu, di setiap ruangan. Prinsip dasarnya adalah alokasikan daya lebih besar pada ruangan-ruangan yang di dalamnya terdapat banyak aktivitas.
Pembagian alokasi daya ini nantinya akan membantu pada pemilihan jenis lampu (bohlam) yang akan ditempatkan. Lampu hemat energy (LHE) atau LED bisa jadi pilihan jika budget mencukupi
Jika memang budget mencukupi untuk penggunaan LED, tempatkan hanya di area-area yang tidak terkena sinar matahari atau area dimana lampu harus terus menyala. Dengan demikian konsumsi listrik di area-area tersebut bisa diminimalisasi. Misal ruang keluarga, teras depan
Setelah pembagian daya untuk setiap ruangan, lakukan juga pembagian kelompok (grouping) lampu. Misalnya, pada ruang makan yang menyatu dengan dapur, bisa kita kelompokkan menjadi tiga grup lampu. Pendant lamp (lampu gantung) sebagai penerangan utama, spot lighting sebagai accent light pada niche atau artwork dinding, dan penerangan untuk area kerja, yang biasanya dipasang di bawah kabinet gantung, kitchen set.
Setiap grup lampu tadi diwakili oleh satu stop kontak, dengan demikian akan lebih mudah mengaturnya. Saat seluruh keluarga berkumpul dan membutuhkan pencahayaan terang agar suasana lebih ceria, bisa menyalakan semua lampu. Pada waktu lain, mungkin menyalakan pendant lamp saja cukup, maka lampu-lampu lain bisa dimatikan. Malam hari saat akan tidur, cukup nyalakan spot light atau penerangan kitchen setsaja. Dengan demikian, konsumsi listrik bisa dikendalikan. Konsumsi listrik terkendali, biaya listrik pun lebih hemat.
Trik lain yang selalu jitu untuk mengendalikan konsumsi listrik pada pencahayaan, sekaligus mempermudah pengaturan mood ruangan adalah dimmer. Atur intensitas cahaya lampu sesuai dengan kebutuhan dan atmosfer yang ingin diciptakan.
Apakah ini hanya berlaku untuk rumah kecil? Tidak juga. Berhemat memang sebaiknya dilakukan dimana saja, bukan? Rumah besar maupun kecil.

LED: Lolos "Ujian" Baru Masuk Pasaran


Darimana kita tahu sebuah produk, keramik lantai misalnya, memiliki kualitas yang baik? Tentunya dari hasil pengujian yang dilakukan untuk setiap keping keramik. Hal yang sama pun berlaku untuk LED. Sebelum dipasarkan lampu-lampu LED melalui tahap pengujian, untuk memastikan kualitasnya. Tahap pengujian tersebut dinamakan binning process.
Pada keramik ada banyak poin yang diujikan, untuk memastikan kualitasnya. Misalnya, ketahanan terhadap beban, daya serap air, dan sebagainya. Pada LED ada empat hal yang harus dibuktikan melalui proses binning, yaitu konsistensi warna, colour rendering, usia pakai (lifetime), dan efikasi (jumlah cahaya per daya) yang dinyatakan dalam satuan lumen per watt (LPW).
Setiap manufaktur LED punya standar soal keempat poin tadi. Nah, fungsi binning adalah memastikan setiap LED yang dihasilkan memenuhi standar tersebut. Jika sebuah lampu LED memenuhi setiap standar, maka ia akan memperoleh predikat Bin 1. Predikat ini terus menurun ke Bin 2, Bin 3, dan seterusnya, sesuai dengan tingkat pemenuhan standar kualitas dari setiap lampu LED yang diuji. Makin besar angka Bin-nya, artinya makin tidak memenuhi standarlah si lampu yang diuji.
Dari hasil binning ini, hanya lampu berpredikat Bin 1 dan Bin 2 yang dinyatakan lulus dan siap dipasarkan. Perlu Anda tahu, jumlah LED yang lulus proses binning tidak pernah lebih dari 50% dari keseluruhan jumlah LED yang diuji. Tak mengherankan jika harga lampu LED terbilang tinggi.
Lalu bagaimana nasib lampu-lampu LED dengan predikat Bin 3 dan seterusnya? Lampu-lampu ini tetap dijual juga, karena tidak lulus binningbukan berarti tidak bisa dipakai. Ada yang berakhir di factory outlet LED, ada yang digunakan untuk lampu-lampu dekoratif sepeda motor, dan sebagainya. Harganya pun jelas lebih rendah daripada LED yang lulus uji.
Dikarenakan masing-masing manufaktur LED punya standar sendiri soal kualitas LED mereka, bisa jadi antara LED dari satu manufaktur dengan manufaktur lainnya berbeda, terutama cahaya dan warna yang dihasilkan. Nah, demi menjaga konsistensi warna dan cahaya ini, sejak beberapa tahun lalu, American National Standards Institute (ANSI) dan The National Electrical Manufacturers Association (NEMA) sudah membuat standar khusus untuk warna dan cahaya. Dengan demikian semua manufaktur LED punya patokan standar yang sama, khususnya untuk dua hal tadi.
Berita terbaru, ada salah satu manufaktur yang sudah berani menyatakan kebebasannya dari proses binning (freedom from binning). Perusahaan ini yakin bahwa lampu-lampu LED produksi mereka tidak perlu melalui proses color bin, karena sudah diuji berdasarkan keadaan nyata (actuall operating).
Perusahaan ini menjelaskan dalam press release-nya, bahwa selama ini lampu-lampu LED, dalam datasheet-nya menuliskan temperatur 25°C, padahal dalam penggunaan sebenarnya LED bisa mencapai temperatur 85°C bahkan lebih. Nah, perusahaan yang satu ini sudah lebih dulu menguji produk LED mereka pada suhu tersebut. Sehingga mereka yakin, meski tidak melalui proses binning, lampu-lampu LED mereka sudah pasti tidak akan mengalami penurunan kualitas. Sejauh ini sepertinya baru satu perusahaan yang berani menyatakan produknya berkualitas, meski tidak melalui proses binning. Bagaimana dengan perusahaan lain, kita tunggu perkembangan berikutnya

Proses QC LED


Benar-benar seni tata cahaya yang sangat luar biasa. LED sudah menjadi standar untuk menciptakan desain yang benar-benar mampu menarik perhatian…
Tidak hanya pada bangunan ini, rasanya LED sudah menjadi teknologi “mutlak” untuk menciptakan desain pencahayaan yang luar biasa menarik, namun hemat energi. Berbagai kelebihan yang dimiliki bola lampu berteknologi terkini ini, membuatnya populer di telinga siapa saja.Lighting designer, arsitek, hingga orang awam. Jadi, sepertinya tak perlu lagi kita berpanjang lebar membicarakan keunggulan-keunggulan lampu LED ini.
Tapi tahukah Anda bagaimana LED bisa sampai di tangan Anda, para konsumen? Perjalanan apa saja yang dilaluinya, sebelum sampai di tangan manufaktur yang kemudian memasarkannya?
Umumnya kita menemukan LED sudah dalam bentuk bola lampu, yang dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan manufaktur lampu, yang kita kenal. Tak banyak yang tahu bahwa sebelum berbentuk bola lampu, LED dijual dalam bentuk substrate (lihat gambar). LED substrate diproduksi oleh perusahaan-perusahaan manufaktur, seperti Cree, Luxeon, Seoul Semi Conductor, GE, Samsung, LG, dan sebagainya. LED substrate inilah yang kemudian dibeli oleh perusahaan manufaktur lampu, yang kemudian melakukan proses packaging, hingga berbentuk bola lampu, seperti yang biasa kita lihat.
Sebelum sampai di pasar, LED juga melalui proses uji kualitas yang dinamakan binning process. Tahap uji kualitas ini akan melahirkan tingkatan-tingkatan kualitas LED, mulai dari Bin 1, Bin 2, Bin 3, dan seterusnya. Dari sekian tingkatan, hanya LED yang memiliki kualitas Bin 1 dan 2 yang dinyatakan lolos uji.  Menurut para produsen, jumlah LED yang lulus uji ini tidak pernah lebih dari 50% dari seluruh LED yang diuji. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa harga LED relatif tinggi.
Proses pengujian atau binning process ini dilakukan sendiri oleh setiap manufaktur. Artinya belum ada lembaga resmi yang melakukan pengujian dan mengeluarkan sertifikasi standardisasi kualitas LED. Hal ini memang sedikit menyulitkan bagi kita, para konsumen, untuk memastikan kualias LED yang kita beli. Satu-satunya cara untuk menjamin kualitas LED, adalah dengan membeli produk dari brand-brand terpercaya, atau sudah kita kenal kualitasnya.
Begitu pula jika kita ingin menjaga kontinuitas kualitas cahaya dan warna dari LED yang kita gunakan. Sangat mungkin terjadi perbedaan pada cahaya dan warna, antara LED yang diproduksi oleh perusahaan satu dengan lainnya. Jadi, jika kita sudah menemukan LED yang pas dengan keinginan dan kebutuhan, alangkah lebih baik jika kita tetap membeli dari perusahaan yang sama. Apalagi kalau LED-LED tadi digunakan untuk satu proyek lighting yang sama.
Apa yang kita bicarakan barusan baru sekelumit dari “misteri” LED, yang mungkin belum banyak kita ketahui. Dengan lebih mengenal teknologi lampu terkini ini, Anda akan lebih mudah menentukan, apakah kita benar-benar harus mengganti semua bola lampu dengan LED? Atau benarkah LED adalah solusi untuk segala permasalah tata pencahayaan? Kita akan berkenalan lebih jauh dengan LED, di artikel-artikel blog berikutnya

Pengetahuan Lighting Dasar

Basic Lighting Knowledge

Lumen (Lm)

Lumen adalah satuan Internasional dari luminous flux, yaitu besarnya cahaya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya (Lampu)

Beam Angle [Satuan : Derajat]

Beam angle adalah besarnya derajat dari suatu sumber cahaya. Gunakan lampu dengan beam angle yang sempit apabila anda memerlukannya untuk menerangi suatu objek, dan gunakan angle yang lebar apabila anda memerlukannya sebagai sumber cahaya utama.

Candela (cd)

Candela adalah satuan internasional dari dari intensitas cahaya, ukuran dari sinar yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya pada arah tertentu.
Setiap sumber cahaya akan memiliki intensitas cahaya untuk yang berbeda untuk arah yang berbeda. Dengan kata lain, semakin besar beam angle yang dimiliki suatu sumber cahaya, maka intensitas cahayanya akan semakin kecil

LUX (lx)

Lux adalah satuan internasional dari sinar yang menyinari suatu bidang.
Lux is the international(SL)unit of illuminance, a measure of light arriving at a surface, 1 lumen per square foot equals 1 footcandle, while 1 lumen per square meter equals 1 lux .
[lux = lumen/m2]

Color Temperature / Correlated Color Temperature(CCT)

Setiap perbedaan temperatur akan memiliki perbedaan warna sinar. Warna warm white (2,700-3,000 Kelvin), warna cool white (5,500-5,800 Kelvin), warna daylight (6,500 – 6,700 Kelvin)

 

Color Rendering Index(CRI)

Color Rendering Index adalah kemampuan dari suatu sumber cahaya untuk menghasilkan cahaya yang menyerupai cahaya dari sinar matahari (CRI = 100). Nilainya berkisar dari 0 hingga 100. Seakin besar nilainya, maka cahaya yang dihasilkan akan semakin menyerupai sinar matahari. Lampu LED dengan kualitas yang baik akan memiliki index CRI sebesar 80.

Efficacy(lm/W)

Eifficacy adalah tingkat efisiensi dari sebuah sumber cahaya untuk merubah listrik menjadi cahaya. Eifficacy diukur dari output lumen dibagi dengan power input watt. Semakin besar nilai Eifficacy yang dihasilkan, maka berarti lampu yang anda pilih semakin hemat energi. Apabila saat ini anda masih menggunakan lampu dengan konsumsi listrik yang besar dalam jumlah banyak, maka mulailah pertimbangkan untuk menggantinya dengan LED.
[Efficacy = lumen / wattage]

Design Life Time

Design Life Time adalah nilai rata-rata dari sebuah produk lampu apabila dioperasikan dengan input voltage yang tepat dan stabil. Lampu LED dengan kualitas yang baik akan memiliki life time sebesar 30,000 jam

Dimmability

Tidak semua produk lampu didesign untuk bisa dioperasikan degan dimmer. Misalnya saja lampu hemat energy tidak didesain untuk bisa dioperasikan dengan dimmer. Apabila anda memerlukan lampu yang bisa dioperasikan dengan dimmer, pertimbangkan untuk menggunakan LED, karena beberapa type lampu LED memang didesain untuk dioperasikan dengan dmmer.


19 Jan 2012

Pertimbangan dalam mendesign Lighting

Beda individu, beda maunya. Beda bangunan, beda ruang, beda pula penataannya. Kalau sudah serba berbeda begini, apa yang harus dilakukan seorang lighting designer?

Pencahayaan sebuah ruangan atau bangunan, tidak bisa disamaratakan. Tidak mungkin pencahayaan untuk  ruang kantor, disamakan dengan ruang keluarga di rumah. Tujuan utama rancang desain pencahayaan, kan, untuk menciptakan suasana yang nyaman, artinya semua harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan manusia yang “menikmati” bangunan atau ruangan tersebut.

Nah, kalau ditelusuri dan dirangkum, paling tidak ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan oleh seorang lighting designer, saat ia akan mendesain pencahayaan, baik untuk rumah, gedung, ruangan, atau apapun.

1.    Aktifitas yang dilakukan atau fungsi umum dari bangunan atau ruangan yang akan didesain. Hal ini berkaitan erat dengan karakter dan keinginan pemilik atau penggunanya.

2.    Desain arsitektural maupun interior dari sebuah bangunan. Mengapa aspek ini perlu diperhatikan? Soalnya, sebuah lighting design haruslah “menyatu” dengan bangunan atau ruangannya. Bagaimana bisa menyatu kalau seorang lighting designer tidak mempertimbangkan aspek desain fisik bangunan.

Untuk poin kedua ini, ada baiknya seorang lighting designer bekerja sama dengan arsitek atau desainer interior bangunan yang bersangkutan. Pasalnya dua orang tadi adalah yang paling mengenal bangunan atau ruang yang mereka desain.

3.    Alokasi daya listrik pada setiap ruangan, khususnya pada bangunan-bangunan rumah tinggal atau residensial. Kalau alokasi daya ini sudah diperhitungkan sejak awal, maka tidak akan ada keluhan penggunaan listrik yang berlebihan. Selain itu, alokasi daya ini juga mempermudah  kita untuk menentukan jumlah titik lampu yang akan dipasang.

Tanpa pertimbangan atas tiga hal di atas, bisa dikatakan mustahil akan tercipta architectural lighting yang pas. Berarti menjadi seorang lighting designer pun harus jeli melihat karakter seseorang, terutama pemilik dan pengguna bangunan. Jadi, jangan heran kalau bertemu denganlighting designer yang ternyata hobi ngobrol. Bisa jadi ini karena kebiasaan mereka, saat akan menggali informasi sebanyak-banyaknya soal kepribadian dan karakter pemilik bangunan, yang akan mereka desain pencahayaannya.